Kamis, 19 November 2009

13 Oktober 2009 : Fast Food Restaurant


mungkin aku terlalu menera kita akan makan sepiring berdua ditemani bintang di pelataran depan taman. sambil terkekeh menyuapkan beberapa pulung nasi tempe atau beberapa kesederhanaan. aku hanya mengudap lembar sayuran dan kau membujukku menyajikan sesuap demi sesuap.

"kau harus makan, sedikit saja" begitu katamu

namun ternyata kita terdampar di sini, di jauh peradaban seperti yang kuharapkan. beberapa meja kasir tanpa polpen dan kertas menanyakan menu, dan hanya hamparan display beku bergambar kaki-kaki ayam goreng tepung, dan wadah-wadah plastik, monumen-monumen berwarna-warni, dan gegap riwa-riwi manusia-manusia boneka kebarat-baratan. kita akhirnya terjebak juga di sana

"kau bisa makan makanan seperti ini" tanyamu

dan seperti biasa aku menjawab tak mengapa. waktumu sudah menipis bukan? aku tak ingin menghambatmu, tak ingin sesuatu terjadi padamu. maka kudorong beberapa gigitan nasi dan sayur kalengan suntikan hormon yang dibuat-buat segar ke mulutku. di sini yang berbicara dolar demi dolar, maka tak ada rupiah berceceran. maka ketika aku masuk ke bagian lain atau kalau kita masuk ke bagian lain etalase ini, kau akan menemui hal yang sama, kau akan merogoh dolar demi dolar lebih dalam daripada di sini. dan aku tak mau.

"kau belum kenyang, bukan" tanyaku

kau hanya menggeleng, dan berkata cukup. ingin aku sekedar mengusap lembut bibirmu yang coreng minyak-minyak sintesis. sekedar merapikan senyummu dari noda, bolehkan? ah kau memang masih seperti kanak-kanak. makan saja masih belepot sana-sini. tapi aku ragu meja kita bagaikan sekat memisah hati kita, peduliku. dan aku terlalu bodoh, kuurungkan niatku.

sebelum kita meninggalkan etalase ini kau memesan satu tangkup roti jepit sayuran dan daging. ah aku tahu, benar kan? kau pasti belum kenyang.

"untuk bekal di pesawat" begitu katamu

dan seperti dua bilah roti yang mengantar kepergianmu, kuselipkan do'a diam-diam diantaranya, semoga kau selamat sampai tujuan.

19.45

Selasa, 17 November 2009

Cinta Separuh



jalanmu lebih mudah bila tak ada beban kutimpakan padamu

menetak kedua bilah kakimu pada seonggok kayu lapuk

langkahmu pasti jauh mengelebat lesat menjauh dan lari
tanpa aku memegangi tanganmu menarikmu masuk
ke tubuhku, ke lukaku ke perihku

kau akan kehilangan waktu, mencari jeda, merunut tanda baca
lambat laun kan merapuh seiring titi pijak menggugup tanpa gegap

jadi biar ku biar kepak pijar pendar menjauh
mematai sia-sia, menunggu adalah jawab sempurna

: cinta separuh yang tak pernah utuh

Senin, 16 November 2009

13 Oktober 2009 : Bandara


berapa lorong kau pinta jadi saksi
beku diami otak-otak karang

sepanjang jalan muara koper-koper berpulang
gerai rambut yang basah sekedarnya
bahkan kaki-kaki kita masih terdiam
enggan menjangkar dermaga hati satu sama lain

plang besi itu bisakah kau cerabut?
koridor pintu sanggupkah kau pecahkan?
manekin-manekin berseragam penurut aturan
karcis-karcis pemisah
roda-roda troli bagasi
adakah peniadaan?

dan
lambaian tangan
tarikan badan
kecup perpisahan
simpan di saku bajumu
dekat dadamu
agar ku selalu dengar debarmu

tak mungkin aku abai
kata kembali

entah
berapa surat rindu terkirim
sampaikan kabar
sampai terlunasi janji

aku masih akan selalu sayang

*20:10



Do'a : Menanti Fajar


dan inilah yang disebut pemberhentian
mata-mata nyalang lelah
menanti rebah mencari peluk
nyata hilang terhempas
kelam memeluk lensa terpejam

dan ingat malam-malam sepertiga akhir
mencari penengah penat dan duka
bahuMu Maha Lapang
tak pernah penat menampung

ayat kalimat sajakmu mengalun
terbata aku eja
padaMU terimakasih karena membawanya

dan itu baju zirah keemasan
penanda fajar jingga keesokan
Kau kalungkan kemudian setelah sujud pertama
dan tunai bertawadlu'
biar kantuk dan dingin yang memeluk
karena lukaku abadi menunggu Kau obati

: putusanMU


Sby, 141109

Pada Setiap Gerimis


: lelaki yang mencintai gerimis

bukankah pada setiap gerimis diam-diam itu
luka urai dari kelopak mata
gerai titis terserap tanah
jatuh menitik laut

bukankah pada setiap gerimis diam-diam itu
rindu ilalang terbasuh
dan padang stepa bersemi
kuncup bunga rekah kecup langit

bukankah pada setiap gerimis diam-diam itu
tulus do'a peminta hujan luruh
sabda alam menjawab harap
itu suci, bukan?

menderaslah saja hujan itu
membebaskanmu
menghidupkanmu
melepaskan bebanmu

nanti di suatu ketika,
cahayaku datang menghangatkan
kita bersama melukis garis

: pelangi

Sby, 131109