
mungkin aku terlalu menera kita akan makan sepiring berdua ditemani bintang di pelataran depan taman. sambil terkekeh menyuapkan beberapa pulung nasi tempe atau beberapa kesederhanaan. aku hanya mengudap lembar sayuran dan kau membujukku menyajikan sesuap demi sesuap.
"kau harus makan, sedikit saja" begitu katamu
namun ternyata kita terdampar di sini, di jauh peradaban seperti yang kuharapkan. beberapa meja kasir tanpa polpen dan kertas menanyakan menu, dan hanya hamparan display beku bergambar kaki-kaki ayam goreng tepung, dan wadah-wadah plastik, monumen-monumen berwarna-warni, dan gegap riwa-riwi manusia-manusia boneka kebarat-baratan. kita akhirnya terjebak juga di sana
"kau bisa makan makanan seperti ini" tanyamu
dan seperti biasa aku menjawab tak mengapa. waktumu sudah menipis bukan? aku tak ingin menghambatmu, tak ingin sesuatu terjadi padamu. maka kudorong beberapa gigitan nasi dan sayur kalengan suntikan hormon yang dibuat-buat segar ke mulutku. di sini yang berbicara dolar demi dolar, maka tak ada rupiah berceceran. maka ketika aku masuk ke bagian lain atau kalau kita masuk ke bagian lain etalase ini, kau akan menemui hal yang sama, kau akan merogoh dolar demi dolar lebih dalam daripada di sini. dan aku tak mau.
"kau belum kenyang, bukan" tanyaku
kau hanya menggeleng, dan berkata cukup. ingin aku sekedar mengusap lembut bibirmu yang coreng minyak-minyak sintesis. sekedar merapikan senyummu dari noda, bolehkan? ah kau memang masih seperti kanak-kanak. makan saja masih belepot sana-sini. tapi aku ragu meja kita bagaikan sekat memisah hati kita, peduliku. dan aku terlalu bodoh, kuurungkan niatku.
sebelum kita meninggalkan etalase ini kau memesan satu tangkup roti jepit sayuran dan daging. ah aku tahu, benar kan? kau pasti belum kenyang.
"untuk bekal di pesawat" begitu katamu
dan seperti dua bilah roti yang mengantar kepergianmu, kuselipkan do'a diam-diam diantaranya, semoga kau selamat sampai tujuan.
19.45






